::.fahri stylist.:: :: Info islam

::.fahri stylist.::

Info islamSeptember 1, 2008 1:55 pm

    Dalam rangkaian ayat Al-Qur’an mengenai puasa di bulan Ramadhan terselip suatu ayat yang secara khusus membicarakan soal berdoa. Di dalamnya Allah subhaanahu wa ta’aala perintahkan orang beriman untuk berdoa kepadaNYA. Dan ALLAH subhaanahu wa ta’aala berjanji untuk mengabulkan doa siapapun asalkan memenuhi tiga syarat:

  1. Memohon hanya kepada ALLAH subhanahu wa ta’aala, bukan selainNYA.
  2. Memenuhi segala PerintahNYA dan,
  3. Beriman kepada ALLAH subhanahu wa ta’aala sebagai Rabb yang Maha Kuasa mengabulkan permintaan dan menetapkan tawdir segalanya

أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

"Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah merka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS AL-Baqarah ayat 186)

 Bulan Ramadhan merupakan bulan dimana orang beriman mempunyai kesempatan begitu luas untuk berdoa kepada ALLAH subhaanahu wa ta’aala. Dan waktu-waktu mustajab (saat doa berpeluang besar  dikabulkan ALLAH) tersebar dalam beberapa momen khusus sepanjang Ramadhan.

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

 "Ada tiga golongan yang doa mereka tidak ditolak:(1) orang yang berpuasa hingga ia berbuka, (2)iman yang adil dan (3) doa orang yang dizalimi." (HR Tirmidzi 3522)

 Subhanallah …! Dalam hal berdoa orang berpuasa disetarakan dengan pemimpin yang adil dan orang terzalimi. Doa orang berpuasa mustajab. Didengar, tidak ditolak ALLAH subhaanahu wa ta’aala. Bahkan dikabulkan insyaALLAH. Setiap orang yang faham hadits ini sangat bergembira menyambut Ramadhan. Sebab itu berarti selama 29 atau 30 hari selama ia berpuasa peluang doanya dikabulkan ALLAH subhaanahu wa ta’aala sangatlah luas … Dan terlebih lagi saat menjelang berbuka ketika menanti tibanya azan Magrib. KIta harus memanfaatkan kesempatan emas menjelang berbuka dengan mengajukan berbagai permintaan kepada ALLAH ta’aala. Sebab sebagian masyarakat kita malah menghabiskan waktu dengan ngobrol tidak karuan menjelang magrib di bulan Ramadhan. Padahal coba perhatikan hadits berikut:

 سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ

 "Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak pada saat berbuka." (HR Ibnu Majah 1743)

Lalu apakah lafal khusus Nabi shollallahu ‘alaih wa sallam menjelang ifthor berbuka puasa? Beliau membaca sebagaimana dijelaskan dalam hadits di bawah ini :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ ذَهَبَ الظَّمَأُ

وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

"Jika Nabi Muhammad shollallahu ‘alaih wa sallam berbuka, ia berdoa: Dhahabazh-zhoma-u wab tallatil-’u ruq wa tsabbatal-ajru insyaa ALLAH "Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat dan semoga ganjaran didapatkan, insya ALLAH." (HR Abu Dawud 2010)

 Mengapa di dalam doa berbuka Nabi shollallahu ‘alaih wa sallam mengatakan: "..dan semoga ganjaran didapatkan, insya ALLAH."?

Karena sesungguhnya yang sangat diharapkan bukan semata kegembiraan pertama sewaktu berbuka didunia, melainkan yang lebih diharapkan orang beriman ialah kegembiraan kedua yaitu saat bertemu ALLAH ta’aala di hari berbangkit kelak. Orang beriman ketika itu bergembira berjumpa ALLAH ta’aala karena puasanya sewaktu di dinia diterima olehNYA. Demikiankah Nabi shollallahu ‘alaih wa sallam bersabda dalam hadits sebagai berikut:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

 "Bagi orang yang berpuasa terdapat dua kegembiraan. Kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan saat kelak perjumpaannya denga ALLAH ta’aala karena ibadah puasanya." (HR Bukhary 1771)

Hidup manusia di dunia adalah pergantian antara susah dan senang. Maka selama bulan Ramadhan khususnya, marilah kita membaca yang Nabi shollallahu ’alaih wa sallam biasa baca ketika menghadapi keadaan susah maupun menerima karunia. Untuk mengantisipasi kesusahan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam melazimkan kalimat istighfar sebagaimana hadits berikut:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa yang tetap melakukan istighfar, maka Allah subhaanahu wa ta’aala akan membebaskannya dari segala kesusahan dan melapangkannya dari setiap kesempitan serta akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak diduganya.” (HR Abu Dawud 1297)

Sedangkan ketika menerima karunia, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menganjurkan kita membaca sebagaimana hadits berikut:

 قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً
فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا كَانَ الَّذِي أَعْطَاهُ أَفْضَلَ مِمَّا أَخَذَ

“Setiap orang yang diberi karunia Allah ta’aala lalu ia membaca ‘Alhamdulillah’, maka Allah ta’aala akan berikan yang lebih utama daripada apa yang telah ia terima.” (HR Ibnu Majah 3795)

Ya Allah, basahi lidah kami dengan mengingatMu selalu. Cerdaskan kami dalam mengajukan doa-doa kepada Engkau sesuai situasi dan kondisi kami masing-masing mengikuti teladan NabiMu Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Ya Allah, berkahilah kami di bulan Sya’ban dan Ramadhan. Amin ya rabb…

 

Info islamSeptember 5, 2007 2:02 pm

    Sesungguhnya apabila seseorang itu berfikir dan meneliti kejadian alam ini maka ia dapat petunjuk ALLAH S.W.T yang telah menjadikannya.

    1. Melihat sesuatu kejadian yang ada disekeliling kita seperti kursi atau meja dan sebagainya maka kita dapati kursi atau meja tersebut tidak boleh ada dengan sendirinya melainkan ada yang membuatnya dan yang mengadakannya.

    Maka dengan itu kita beri’tiad dan percaya alam ini tidak boleh ada dengan sendirinya melainkan ada yang menjadikan dan menciptakannya tentulah ALLAH S.W.T yang Maha Pencipta.

    2. Kita meneliti dan mengkaji dengan lebih jauh lagi akan perbuatan-perbuatan orang yang membuat kursi atau meja ada yang berbagai bentuk rupa, yang mana mereka sentiasa membuat dan mengukir kusi atau meja tadi dengan lebih baik dan lebih halus lagi ukirannya tetapi tidak pernah lengkap dan sempurna.

    Maka itu kelemahan dan kekurangan manusia yang mengikut kadar dan ilmu serta kekuatan yang dianugerahkan oleh ALLAH Ta’ala. Maka kita menyadari bahwa ALLAH Ta’ala adalah maha sempurna di dalam mencipta kejadian alam ini.

    3. Kita melihat akan kejadian langit dan bumi ini dan alam cakrawala ini daripada manusia, bulan, matahari, hewan, tumbuh-tumbuhan yang mana setiap jenis dijadikan dengan cukup lengkap sempurna. Contohnya manusia dijadikan adalah sebaik-baik kejadian yaitu : Berakal, Bertutur, mendengar dan lain-lain sifat lagi.

    Dan apabila kita perhatikan alam cakrawala seperti bumi, langit, bulan, matahari dan lain-lain yang mana semuanya dicipta untuk manfaat dan keperluan semua makhluk yang mana semua itu melemahkan akal para cerdik pandai memikirkan segala kejadian tersebut yang tiada tolok bandingnya. Maka nyatalah di sini bahwa penciptanya mempunyai kuasa yang maha sempurna, Ilmu yang Maha luas dan bersifat dengan segala sifat kesempurnaan yang Maha suci dari segala sifat kekurangan.

    Sesungguhnya dari kaedah Syar’iyyah dan berita para Nabi bahwa yang menjadikan alam ini ialah ALLAH S.W.T karena segala perbuatannya menunjukkan bekas bagi segala sifat yang Maha Suci dan tidaklah makhluk dapat mengetahui hakikatnya karena segala makhluk ciptaanNya sentiasa bersifat lemah segala kekurangan.

    Rujukan : (Kitab Risalah Tauhid - Abdul Ghani Yahya)